Senin, 11 Maret 2013

Surat Untuk Fajar

: Fajar

Kali ini aku bukan cerita tentang pagi ataupun matahari yang mengintip dari timur, bukan.
aku bercerita tentang kamu, tentang cintamu, penantianmu, tentang rasamu.
seperti namamu, Fajar. Harapan baru pun pasti kau nantikan dalam bentuk apapun itu.

Aku hanya sedikit memberikan gambaran, tapi aku bukan memberikanmu nasehat karena aku belum terlalu tua untuk bisa menasehatimu dan juga tidak seperti orang-orang yang mempunyai pengalaman akan hidup dan juga kehidupan.

Pengembaraanmu sebentar lagi berakhir, tinggal kau yang akan menentukan kearah mana kau akan berjalan dengan beban yang ada di pundakmu. Kau tahu, ketika kau sudah menjatuhkan pilihan, itu adalah hal mutlak yang harus kau ambil, jangan kau berhenti di tengah perjalanan, karena lelaki seperti itu adalah lelaki pengecut yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah di dapatkan.

Lelaki bukan hanya pemimpin, tapi sebagai navigator untuk perjalanan selanjutnya. Dan perahumu pun akan melewati lautan tanpa batas dan juga tanpa tanda. Bukankah ini menarik ? Saat gelombang mulai terasa, tetaplah berjalan, jangan kau berhenti untuk menurunkan jangkarmu dan bersandar ke salah satu dermaga dan kemudian kau mengangkat jangkarmu dan meninggalkan dermaga itu kosong.

Ingatlah tidaklah hebat seorang lelaki jika dia hanya berjanji tapi tidak dapat melakukan apa-apa yang dia janjikan. Selamat berlayar.


Kapal dan Dermaga

"Denting piano kala jemari menari, nada merambat pelan saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang yang pernah terlupakan ..."

Aku berlari-lari kecil memasuki sebuah cafetaria karena hujan tiba-tiba turun, tidak butuh waktu lama untuk aku berada di dalamnya dan lagu ini pun mengalun pelan, wow! lagunya om iwan! gumamku dalam hati. Akupun segera memesan coklat panas! minuman terenak menurutku disini, setelah pesananku selesai dibuat aku mulai mencari tempat favoritku, dimana lagi kalau bukan di sudut, aku suka duduk di sudut karena dari sana aku bisa melihat orang-orang hilir mudik keluar masuk, tanpa mereka bisa melihatku dengan jelas, ada yang tertawa, serius, dan hanya sekedar ngopi saja.

Masih dengan coklat panas dan laptop di mejaku, mataku liar berkeliling ke arah pengunjung di tempat ini. Dan pandanganku pun terhenti pada seorang wanita dengan cadar di wajahnya, duduk sendiri sambil membaca sebuah buku, entah buku apa yang dibacanya, aku tidak bisa melihat dengan jelas dari sini.

Kalau aku tidak salah ingat, setiap aku ke tempat ini aku selalu bertemu dengan perempuan ini, yang entahlah hanya kebetulan atau memang dia pelanggan tetap disini aku pun tak tahu. Aku mulai terusik dengan rasa penasaranku. Tergerak untuk pindah tempat dan duduk tidak jauh dari kursinya.

Dan wajahnya pun mulai samar-samar terlihat tapi tidak sempurna karena ia duduk tepat dibawah lampu yang remang-remang. Pandangan mata kami pun sempat beradu beberapa kali, ia tetap dengan bukunya dan aku asik dengan laptopku. Aku mencoba tersenyum saat pandangan mata kami beradu kembali, tapi entah apakah ia tersenyum atau tidak, karena wajahnya berbalut cadar, dan hanya terlihat matanya yang besar dan alisnya yang tebal, pasti cantik jika cadar itu dibuka, pikirku dalam hati.
Akupun mendekatinya dan mencoba berbicara, kami pun berkenalan dan ia menyebutkan namanya. tampak akrab sekali, seolah-olah kami dipertemukan kembali setalah bertahun-tahun tidak bertemu, ya seperti itulah obrolan kami.

"aku sempat melihatmu beberapa kali disini, entah itu malam atau siang, sering kesini ?" tanyaku.
"hmm nggak juga, tapi memang aku suka sekali tempat ini" katanya.
aku memperhatikan lagi wajahnya, ini wajah nggak bermasalah sama sekali, bahkan terlihat cantik, tapi kenapa ditutupi cadar?? gumamku lirih.

"aneh ya lihat aku ?' tanyanya. Aku tersentak sepertinya ia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
"hmmm nggak juga, cuma penasaran kenapa pakai cadar ?" tanyaku.
Dan diapun menutup buku yang dibaca, kemudian matanya menerawang seakan-akan ada sesuatu yang akan dia katakan tapi terasa berat.
"kau ingin tahu?"
"ya" sahutku.

Kamu lihat luka ini dia menunjukan punggungnya, sepertinya ada bekas sayatan yang agak kering, kemudian disini, dia menunjukan hatinya, lukanya lebar tapi sudah sedikit tertutup. Kemudian disni, dia menunjukan tepat dibagian jantung, semacam luka yang sudah kering tapi masih berbekas. Ini luka yang dia berikan untukku, lelaki yang datang dan pergi sesuka hatinya, melabuhkan jangkar di dermagaku dan melepaskan jangkar setelah dia bosan bersandar di dermagaku. Tapi luka-luka itu sekarang sudah mulai mengering dan hanya meninggalkan bekas saja.

Kemudian perlahan ia mulai membuka cadarnya, dengan tangan sedikit gemetar, akupun mulai gugup, apa yang akan terlihat. Dan ternyata setelah dibuka, aku pun tercengang, bekas luka yang masih merah, berdarah dan masih basah.

"kamu terkejut ? inilah yang ditinggalkan lelaki yang baru saja berlabuh di dermagaku, dia berlabuh hanya sebentar, tapi menorehkan luka yang sangat mendalam. Dia kembali berlayar dan berlabuh ke dermaga-dermaga lain yang dia kehendaki. Dia tidak akan kembali lagi, luka yang lain disekitar tubuhku bisa aku tutup dengan baju ini, tapi luka diwajah ini belum kering dan masih basah, jadi akan terus membekas sampai kapanpun, itulah alasan mengapa cadar ini selalu menutupi wajahku. Kemudian wanita itu beranjak dari tempat duduknya, mengemasi barang-barangnya kemudian berlalu meninggalkanku.

Tapi sebelum pergi ia berkata, saat ada kapal bersandar di dermagamu, pastikan berapa lama dia akan singgah, sehari, seminggu, sebulan, jika dia tidak punya alasan untuk menangkarkan jangkar dalam waktu lama, tutup dermagamu! kemudian dia berlalu.
aku hanya terdiam, sambil meminum coklat panas yang pastinya sudah tidak panas lagi, dan akhir cerita kami pun ditutup dengan lagu dari om iwan, dan berhentinya hujan.

" rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari kenyataan ini, pernah kumencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti"




Sabtu, 09 Maret 2013

Jejak Yang Tertinggal

Pagi masih belum sempurna betul saat aku menyibak tirai jendela di kamar. Matahari pun masih malu-malu menampakan sinarnya, awan jingga di timur makin mempercantik kota ini di pagi hari, lampu-lampu jalanan baru sebagian padam. Dan aku sudah terjaga dengan secangkir teh hangat dan laptop yang masih menyala dari semalam. Hari ini hari harusnya aku sudah bersiap untuk pulang, tapi sepertinya aku mengalami dejavu, keadaan seperti ini lagi. Dan ah entah.

Aku buka handphone yang aku acuhkan bunyinya daritadi, dan ternyata ada pesan dari seorang kawan.
"sudah mau pulang?'
"iya ini lagi prepare." jawabku
"sudah bilang ?"
"belum, mungkin nanti kalau sudah sampai." kataku
"ah payah, oke hati-hati.'
"yup, terimakasih."

Hai kawan tahukah kau aku punya satu rahasia yang tidak aku ceritakan padamu saat kita berbincang semalam, tanpa sepengetahuanmu aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan pada angin saat hembusan-nya menyentuh wajahku sepanjang perjalanan. Angin pasti sampaikan, dan kau tidak perlu khawatir dia pasti tahu karena dia cerdas. 

"aku pulang hari ini, jejak-ku sudah aku tebar disudut-sudut jalan kota, jika kau rindu aku, rasakan hembusan angin yang menyentuh kulitmu, karena udara hari itu sudah aku racuni dengan debu-debu rinduku"

Savoy Homann 27022013

*tulisan yang tercecer dan belum sempat di posting pada hari itu.

Rabu, 13 Februari 2013

Sepenggal Cerita Malam

"How do I 
Get through one night without you 
If I had to live without you 
What kind of life would that be ?"

Lagu ini berkali-kali aku dengar hari ini, entah itu di kantor, dalam perjalanan pergi dan pulang, dan sampai sekarang aku menulis ini pun, lagu ini masih saja aku dengar, entah sengaja atau kebetulan saja semesta mensinkronisasikan dengan suasana hatiku saat ini, entah. Tapi aku akui semesta sedikit nakal kali ini, karena telah membiarkanku untuk melamunkan tentangmu lagi.

Malam ini gerimis jatuh disini, lagi-lagi semestakah ? jika memang demikian, sangat sempurna, sungguh! 

lagu ini dan kamu, iya kamu! kamu masih ingat satu malam saat dimana ada airmata, dan tertawa melebur bersama lantunan lagu ini. Kemudian kita harus menyerah pada subuh yang tidak berpihak pada kita. Mengharuskan kamu untuk berjalan ke kiri dan aku ke kanan, bukan lurus seperti apa yang kita mau. Kamu tahu sayang, saat itu aku benci subuh datang, aku marah, aku kesal, aku menderita,aku sakit, tapi aku tak punya kuasa, saat itu langit sedang memperlihatkan kuasanya yang tak terbatas, dia mampu membuat apa saja yang dia mau, membuat subuh menjadi cepat pada saat itu adalah kehendak langit, bukan aku dan juga bukan kamu.

Bahkan saat kita menjadi orang lain saat ini pun, semesta sedang bermain bersama kita, bersama hatimu dan juga hatiku. saat kamu harus memutuskan untuk menerima apa yang sudah menjadi ketetapan sebelum kamu bertemu aku pun itu sudah di tulis oleh semesta, aku tahu kau butuh restu bumi untuk membuatmu bahagia. 

mungkin kau masih sangsi dengan keberadaanku di dunia yang antah berantah yang memungkinkan restu bumi tidak sampai ditanganmu.

Sayang, tahukah saat itu aku punya mimpi sederhana yang belum pernah aku ceritakan padamu. Menunggumu pulang, membuatkan secangkir kopi, memijat kepalamu saat lelah sembari berbincang tentang dunia kita bersama adalah mimpi yang ingin aku rajut bersamamu. Tapi, ah! sudahlah, seharusnya aku tak menceritakan ini bukan ? 


Sayang, kau hanya perlu menghitung waktu yang berguguran dan hari yang berganti, secepat subuh yang pernah kita lewati bersama. Memulai dengan sebuah ketetapan dan pilihan barumu.

Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, bersamamu, dan berbagi denganmu. Tuhan sungguh baik mempertemukan aku dan kamu di waktu yang seperti ini. Terimakasih, bersamamu aku banyak belajar, bahwa sayang dan cinta adalah sesuatu yang astral yang tanpa perlu wujud.

" Ya Rabb Alfatiha aku kirimkan malam ini untuknya, jangan pernah Engkau tinggalkan dia dalam keadaan apapun, sayang-Mu lebih besar dari rasa sayangku untuknya, dan Engkau pun mengetahui apa yang tidak kami ketahui."


"And tell me now 
How do I live without you 
I want to know 
How do I breathe without you 
If you ever go 
How do I ever, ever survive? 
How do I 
How do I 
O how do I live?."


Kasih Allah atasmu.